• 20 Juni 2024 9:18
  • Last Update 19 Juni 2024 20:36 20: 36: 43
Riuh Anak-Anak Desa Kuapan Bermain Alat Musik Gong

Riuh Anak-Anak Desa Kuapan Bermain Alat Musik Gong

Kampar – Suara kendang dan gong bertalu-talu di sore hari di Desa Kuapan Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar, Rabu (6/8) sore. Suara cekikan para bocah menambah riuh alunan musik yang dimainkan dengan alat musik gong, calempong dan kendang di desa tersebut.

Riuhnya suasana ini berasal dari salah satu sudut rumah batu bergaya klasik di Kampung Almarhum Bupati Kampar, Azis Zaenal.

Suasana riuh ini berasal dari keriangan belasan anak-anak yang tengah asyik memainkan sejumlah alat musik tradisional.

Bukan tanpa irama, alat musik tabuh dan pukul tersebut dimainkan dengan irama teratur oleh anak-anak yang terlihat dari perawakannya masih bersekolah ditingkat sekolah dasar.

Warga desa setempat bernama Mahnizar S. Hum berceletuk kalau keriuhan ini kerap hadir di kampung tersebut setiap sore hari.

Kampung yang tenangpun riuh karena permainan alat musik tersebut yang dimainkan dengan penuh riang gembira.

Mahnizar menuturkan anak-anak ini bermain alat musik tersebut untuk latihan serta mengisi kekosongan waktu disore hari menjelang waktu Maghrib tiba.

Tak hanya karena kesenangan alat musik tradisional yang menjadi peninggalan tradisi ini dimainkan anak-anak di kampung tersebut, tetapi juga karena alasan berlatih mempersiapkan diri jika ada perlombaan memainkan alat musik tradisional tersebut.

Para anak-anak yang bermain alat musik ini tergabung dalam sebuah grup musik yang diberi nama Sultan Gong.

Alat musik gong dan calempong di Kampar bukanlah sebuah alat musik yang asing bagi tradisi di sejumlah daerah di Kabupaten Kampar.

Disejumlah acara besar yang menjadi budaya di daerah Kampar, alat musik ini tidak ketinggalan untuk dimainkan.

Kami beberapa Awak Media sempat berjumpa dengan pembina kelompok musik ini yang bernama Mizon.

Kepada Wartawan ia bercerita tentang rutinitas anak-anak setiap dua atau tiga kali dalam sepekan berlatih dirumahnya memainkan alat musik tersebut.

Menurutnya kelompok musik ini terbentuk secara mandiri oleh warga di Desa Kuapan.

Kelompok ini terbentuk dengan tujuan melestarikan peninggalan seni budaya dan juga meningkatkan kreatifitas anak-anak.

Belakangan adanya kelompok musik ini jadi salah satu pilihan anak-anak menyalurkan bakatnya dan juga memberi suatu kegiatan positif bagi generasi muda di kampung tersebut.

Ditengah pandemi Covid 19 seperti sekarang ini, berlatih memainkan alat musik tradisional ini menjadi salah satu cara yang dapat memberi kecerian bagi anak-anak di kampung tersebut.

Kegiatan berlatih ini pada masa PSBB sempat dihentikan sementara karena khawatir penularan Covid 19. Di masa penerapan tatanan kehidupan baru seperti saat ini, barulah anak-anak dibolehkan Mizon main alat musik tradisional tersebut bersama.

“Kelompok ini dahulunya sempat diapresiasi almarhum Bupati Kampar, Azis Zaenal karena dinilai telah mampu melestarikan budaya,” katanya.

Semangat untuk melestarikan budaya ini pula juga telah pernah membuahkan prestasi dengan masuk sebagai juara 5 besar dalam sebuah perlombaan dan festival musik Gong yang diadakan pemerintah Kabupaten Kampar pada 2018 lalu. Selanjutnya, ungkap Mizon, Kelompok Sultan Gong selain ikut Perlombaan, kita juga sering di undang tampil pada acara pesta dan kegiatan masyarakat baik di Kuapan maupun di luar Desa Kuapan. Bahkan Kita pernah tampil di Kabupaten lain.

Namun demikian upaya pelestarian budaya musik gong ini belum mendapat perhatian sepenuhnya oleh Pemkab Kampar, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar.

Hingga kini, dengan semangat yang dimiliki Mizon dan para anak binaannya seni musik ini terus dilestarikan meski dengan kondisi alat musik seadanya.

Mizon berharap ada secercah perhatian pemerintah dalam upaya pelestarian kesenian tersebut.(Rls/Rubi/zar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *